Melampaui Bali: geliat pariwisata Indonesia dan program 10 Bali Baru di 2026
Pariwisata Indonesia menggeliat di 2026 dengan 3,44 juta wisatawan mancanegara pada kuartal pertama. Lewat program 10 Bali Baru, destinasi seperti Lombok, Labuan Bajo, dan Borobudur tumbuh pesat.
Sebagai seseorang yang sudah lama menyusuri berbagai sudut Nusantara, saya belajar untuk melihat pariwisata bukan sekadar angka kunjungan, melainkan cerita tentang tempat dan manusianya. Tahun 2026 menawarkan cerita yang menarik: Indonesia kembali menggeliat sebagai tujuan wisata, dan kali ini perhatian mulai bergeser dari Bali ke banyak destinasi lain yang tak kalah memikat di seluruh kepulauan.
Angka yang menjanjikan
Data awal tahun 2026 cukup menggembirakan. Sepanjang kuartal pertama, Indonesia mencatat sekitar 3,44 juta kunjungan wisatawan mancanegara, naik sekitar 8,62 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa minat dunia terhadap Indonesia terus tumbuh, dan bahwa pemulihan sektor pariwisata bukan lagi sekadar harapan, melainkan tren yang nyata dan berkelanjutan.
Program 10 Bali Baru
Salah satu strategi yang menarik adalah program 10 Bali Baru, yang mulai digulirkan sejak 2016. Tujuannya sederhana namun penting: menyebarkan manfaat pariwisata ke luar Pulau Bali. Lewat program ini, sejumlah destinasi lain mendapat sorotan dan dukungan agar bisa menerima lebih banyak kunjungan, sehingga geliat ekonomi tidak menumpuk di satu titik saja, melainkan menyebar ke berbagai daerah.
Destinasi yang bertumbuh
Beberapa nama kini semakin dikenal wisatawan. Lombok dengan kawasan Mandalika, Labuan Bajo sebagai gerbang menuju Komodo, serta Borobudur di Yogyakarta termasuk destinasi yang mencatat pertumbuhan kunjungan cukup pesat. Ketiganya menawarkan sesuatu yang berbeda dari pantai Bali: pengalaman budaya yang dalam, alam yang masih asri, dan kesempatan untuk merasakan sisi lain dari Indonesia.
Bali yang berbenah
Bali sendiri tidak tinggal diam. Pulau ini memperluas daya tariknya melalui rangkaian acara budaya, mulai dari komedi di Canggu, musik di Legian, hingga pameran fotografi di kawasan kreatif Nuanu. Wilayah seperti Canggu dan Uluwatu juga tetap menjadi favorit para pekerja jarak jauh, yang cenderung tinggal lebih lama dan memberi dampak ekonomi yang stabil bagi masyarakat sekitar sepanjang tahun.
Pandangan tenang saya
Meski kabar ini menggembirakan, saya berusaha tetap berpijak pada kenyataan. Pertumbuhan kunjungan membawa peluang, tetapi juga tanggung jawab: menjaga alam, menghormati budaya, dan memastikan warga lokal ikut menikmati hasilnya. Bagi saya, pariwisata yang sehat bukan hanya soal jumlah wisatawan, melainkan soal keseimbangan. Ujian sesungguhnya adalah menjaga agar keindahan ini tetap lestari untuk generasi mendatang.





